BAB I
PENDAHULUAN
Menangkap
ikan, adalah kegiatan perburuan. Karena sifatnya memburu, menjadikan kegiatan
penangkapan ikan mengandung ketidakpastian yang tinggi. Untuk mengurangi
ketidakpastian hasil tangkapan ikan tersebut, nelayan sudah sejak lama
menggunakan sarana “cahaya” sebagai alat bantu penangkapan ikan.
Sebelum teknologi electrical
light berkembang dengan pesat seperti sekarang ini, nelayan-nelayan di berbagai
belahan dunia menggunakan cahaya lampu obor sebagai alat bantu penangkapan
ikan. Pada awalnya penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan hanya
terbatas pada perikanan tradisional yang terletak di pantai saja, seperti
perikanan pukat pantai, sero, dan beberapa alat tangkap bagan lainnya. Namun,
seiring dengan berkembangnya kegiatan perikanan tradisional menjadi industri,
pemanfaatan cahaya sebagai alat bantu berkembang luas untuk membantu
penangkapan ikan pada perikanan purse seine, bagan, stick held deep nets, dan
lain-lain.
Penggunaan cahaya listrik
dalam kegiatan penangkapan ikan pertama kali dikembangkan di Jepang sekitar
tahun 1900, kemudian selanjutnya berkembang ke berbagai belahan dunia.
Indonesia sendiri, penggunaan lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan tidak
diketahui dengan pasti. Diduga, perikanan dengan alat bantu lampu berkembang
dari bagian timur perairan Indonesia dan menyebar ke bagian barat Indonesia.
BAB
II
A.
Cahaya
sebagai alat bantu penangkapan ikan
Pemanfaatan
cahaya sebagai alat bantu penangkapan ikan sesungguhnya sangat berkaitan dengan
upaya nelayan dalam memahami perilaku ikan dalam merespon perubahan lingkungan
yang ada di sekitarnya. Hampir semua ikan menggunakan matanya dalam aktivitas
hidupnya, seperti memijah, mencari makan, dan menghindari serangan ikan besar
atau binatang pemangsa lainnya. Cahaya merupakan faktor utama bagi ikan dalam
rangka mempertahankan hidupnya. Atas dasar pengetahuan tersebut, maka nelayan
menggunakan cahaya buatan unttuk mendorong ikan melakukan aktivitas tertentu.
Secara
umum, respon ikan terhadap sumber cahaya dapat dibedakan menjadi dua kelompok,
yaitu bersifat phototaxis positif (ikan yang mendekati datangnya arah sumber
cahaya) dan bersifat phototaxis negatif (ikan yang menjauhi datangnya arah
sumber cahaya).
Ikan-ikan
yang bersifat phototaxis positif secara berkelompok akan bereaksi terhadap
datangnya cahaya dengan mendatangi arah datangnya cahaya dan berkumpul di
sekitar cahaya pada jarak dan rentang waktu yang tertentu. Selain menghindar
dari serangan predator (pemangsa), beberapa teori menyebutkan bahwa
berkumpulnya ikan disekitar lampu adalah untuk kegiatan mencari makan.
Namun
demikian, tingkat gerombolan ikan dan ketertarikan ikan pada sumber cahaya
bervariasi antar jenis ikan. Perbedaan tersebut secara umum disebabkan karena
perbedaan faktor phylogenetic dan ekologi, selain juga oleh karakteristik fisik
sumber cahaya, khususnya tingkat intensitas dan panjang gelombangnya. Hasil
kajian beberapa peneliti menyebutkan bahwa, tidak semua jenis cahaya dapat
diterima oleh mata ikan. Hanya cahaya yang memiliki panjang gelombang pada
interval 400 sampai 750 nanometer yang mampu ditangkap oleh mata ikan.
B.
Pemanfaatan
cahaya
Pemanfaatan
cahaya untuk alat bantu penangkapan ikan dilakukan dengan memanfaatkan sifat
fisik dari cahaya buatan itu sendiri. Masuknya cahaya ke dalam air, sangat erat
hubungannya dengan panjang gelombang yang dipancarkan oleh cahaya tersebut.
Semakin besar panjang gelombangnya maka semakin kecil daya tembusnya kedalam
perairan.
Faktor
lain yang juga menentukan masuknya cahaya ke dalam air adalah absorbsi (penyerapan)
cahaya oleh partikel-partikel air, kecerahan, pemantulan cahaya oleh permukaan
laut, musim dan lintang geografis. Dengan adanya berbagai hambatan tersebut,
maka nilai iluminasi (lux) suatu sumber cahaya akan menurun dengan semakin
meningkatnya jarak dari sumber cahaya tersebut.
Dengan
sifat-sifat fisik yang dimiliki oleh cahaya dan kecenderungan tingkah laku ikan
dalam merespon adanya cahaya, nelayan kemudian menciptakan cahaya buatan untuk
mengelabuhi ikan sehingga melakukan tingkah laku tertentu untuk memudahkan
dalam operasi penangkapan ikan. Tingkah laku ikan kaitannya dalam merespon
sumber cahaya yang sering dimanfaatkan oleh nelayan adalah kecenderungan ikan
untuk berkumpul di sekitar sumber cahaya.
Untuk
tujuan menarik ikan dalam luasan yang seluas-luasnya, nelayan biasanya
menyalakan lampu yang bercahaya biru pada awal operasi penanggkapannya. Hal ini
disebabkan cahaya biru mempunyai panjang gelombang paling pendek dan daya
tembus ke dalam perairan relatif paling jauh dibandingkan warna cahaya tampak
lainnya, sehingga baik secara vertikal maupun horizontal cahaya tersebut mampu
mengkover luasan yang relatif luas dibandingkan sumber cahaya tampak lainnya.
Setelah
ikan tertarik mendekati cahaya, ikan-ikan tersebut kemudian dikumpulkan sampai
pada jarak jangkauan alat tangkap (catchability area) dengan menggunakan cahaya
yang relatif rendah frekuensinya, secara bertahap. Cahaya merah digunakan pada
tahap akhir penangkapan ikan.
Berkebalikan
dengan cahaya biru, cahaya merah yang mempunyai panjang gelombang yang relatif
panjang diantara cahaya tampak, mempunyai daya jelajah yang relatif terbatas.
Sehingga, ikan-ikan yang awalnya berada jauh dari sumber cahaya (kapal), dengan
berubahnya warna sumber cahaya, ikut mendekat ke arah sumber cahaya sesuai
dengan daya tembus cahaya merah. Setelah ikan terkumpul di dekat kapal (area
penangkapan alat tangkap), baru kemudian alat tangkap yang sifatnya mengurung
gerombolan ikan seperti purse seine, sero atau lift nets dioperasikan dan
mengurung gerakan ikan. Dengan dibatasinya gerakan ikan tersebut, maka operasi
penangkapan ikan akan lebih mudah dan nilai keberhasilannya lebih tinggi.
Dalam perkembangannya beberapa sumber cahaya yang
digunakan sebagal alat bantu penangkapan di Indonesia antara lain:
-
Obor
Obor dibuat dari bambu yang kemudian diisi dengan minyak
tanah dan diberi sumbu pada bagian ujung atasnya. Dahulu alat ini banyak
digunakan untuk penangkapan di Selat Bali. namun sekarang penggunaannya sulit
ditemukan lagi.
-
Lampu
Petromaks
Lampu petromaks umumnya memiliki kekuatan cahaya 200
lilin atau sekitar 200 watt. Di daerah Indonesia bagian timur penggunaan
petromaks jenis kedua biasa dilakukan untuk melakukan penangkapan ikan di
pinggiran pantai dengan cara menombak.
-
Lampu
Listrik
Meskipun pemakaian lampu yang bersumber dari tenaga
listrik ini lebih mudah, efektif dan efisien, sebab penempatannya dapat diatur
sesuai dengan keinginan, namun penggunaan lampu listrik bagi nelayan kecil di
Indonesia masih sangat terbatas.
C.
Alat
Tangkap Yang Menggunakan Bantuan Cahaya
Berbagai
jenis alat tangkap mulai dari yang tradisional sampai alat tangkap modern telah
memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu. Jenis-jenis alat tangkap berupa bagan
tancap di Perairan Sulawesi Selatan menggunakan lampu strong, kin (pressure
lamp) sebagai sumber cahaya. Begitu pula alat tangkap purse seine yang
beroperasi pada malam hari tersebar luas di Perairan Indonesia merupakan alat
tangkap yang memanfaatkan cahaya sebagai alat bantu. Contoh alat tangkap cumi –
cmui dengan bantuan cahaya.
D.
Persyaratan
Daerah Penangkapan Ikan dengan Alat bantu Cahaya
-
Syarat
Lingkungan
Persyaratan
utama dalam penggunaan cahaya lampu sebagai alat bantu penangkapan adalah
kondisi lingkungan yang mendukung sehingga peran dan fungsi cahaya menjadi
lebih efisien. Kondisi lingkungan yang baik adalah cahaya lampu yang digunakan
pada malam yang gelap. Fase bulan menjadi faktor yang menentukan gelap dan
terangnya bulan. Light fishing hanya akan efektif dilaksanakan pada bulan
gelap, dengan demikian cahaya lampu tidak dapat dioperasikan pada siang hari.
Pada saat bulan terang penggunaan cahaya sebagai alat bantu penangkapan menjadi
sangat tidak efektif. Akibat adanya cahaya lain yang turut mempengaruhi
behavior dari ikan-ikan di perairan.
-
Syarat
Penangkapan
Selain
faktor-faktor lingkungan diatas, ada beberapa syarat lain yang menentukan
keberhasilan suatu operasi penangkapan. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan
antara lain :
1) Cahaya yang akan digunakan harus
tepat untuk jenis ikan yang akan ditangkap dengan mengetahui behavior dari
ikan-ikan yang hendak ditangkap terhadap jenis cahaya.
2) Cahaya yang digunakan juga harus
mampu menarik ikan pada jarak yang jauh baik vertikal maupun horisontal, untuk
syarat ini biasa digunakan cahaya berwarna biru atau hijau.
3) Ikan-ikan diusahakan untuk berkumpul
pada area penangkapan tertentu.
4) Waktu yang tepat untuk menentukan
mulai penangkapan terhadap ikan-ikan yang telah berkumpul, setelah ikan mulai
berkumpul diusahakan ikan tetap tenang berada pada area penangkapan sampai
batas waktu tertentu sebelum dilakukan penangkapan, untuk itu diusahakan agar
ikan tidak melarikan diri atau menyebar.
-
Syarat
Biologi
Dalam
hubungannya dengan keberhasilan operasi penangkapan dengan menggunakan cahaya,
perlu kiranya diketahui kebiasaan dari ikan-ikan yang akan ditangkap. Salah
satu kebiasan ikan yang perlu diperhatikan dalam penangkapan adalah ruaya
vertikal harian ikan tersebut. Berdasarkan ruaya vertikal hariannya, ikan dan
hewan laut lainnya dapat dibagi atas 6 kelompok, yaitu :
1)
Jenis
ikan pelagis yang muncul sedikit diatas termoklin pada siang hari.
2)
Jenis
ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin pada waktu siang hari.
3)
Jenis
ikan pelagis yang muncul dibawah termoklin selama waktu sore hari
4)
Jenis
ikan dasar (demersal fish) berada dekat dasar perairan pada waktu siang hari,
beruaya dan menyebar di bawah termoklin, terkadang berada diatas termoklin pada
sore hari kemudian turun ke dasar atau lapisan yang lebih dalam pada waktu pagi
hari.
5)
Jenis-jenis
ikan yang menyebar melalui kolom air selama siang hari, sedangkan pada waktu
malam ikan tersebut akan turun ke dasar perairan.
6)
Jenis
ikan pelagis maupun demersal yang tidak memiliki migrasi harian yang jelas.
-
Kuat
Dan Kemampuan Penglihatan Ikan Dalam Air
Cahaya
yang masuk ke dalam air akan mengalami pereduksian yang jauh lebih besar bila
dibandingkan dalam udara. Hal tersebut terutama disebabkan adanya penyerapan
dan perubahan cahaya menjadi berbagai bentuk energi, sehingga cahaya tersebut
akan cepat sekali tereduksi sejalan dengan semakin dalam suatu perairan.
Pembalikan dan pemancaran cahaya yang disebabkan oleh berbagai partikel dalam
air, keadaan cuaca dan gelombang banyak memberikan andil pada pereduksian
cahaya yang diterima air tersebut. Dengan demikian daya penglihatan ikan banyak
dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut (Gunarso, 1985).
E.
Tantangan
Pemanfaatan lampu sebagai alat bantu
penangkapan ikan telah berkembang secara cepat sejak ditemukan lampu listrik.
Sebagian besar nelayan beranggapan bahwa semakin besar intensitas cahaya yang
digunakan maka akan memperbanyak hasil tangkapannya. Tidak jarang nelayan
menggunakan lampu yang relatif banyak jumlahnya dengan intensitas yang tinggi
dalam operasi penangkapannya. Anggapan tersebut tidak benar, karena
masing-masing ikan mempunyai respon terhadap besarnya intensitas cahaya yang
berbeda-beda.
Studi terhadap besarnya nilai intensitas
cahaya yang mampu menarik ikan pada setiap jenis ikan perlu dilakukan. Hal ini
penting, selain agar ikan target tepat berada dalam area penangkapan, juga
untuk menghindari pengurasan ikan tangkapan dan pemborosan biaya penangkapan.
Sebab tidak jarang, dalam operasi penangkapan ikan dengan alat bantu cahaya ini
ikan-ikan yang belum layak ditangkap (belum memijah) atau bahkan masih juvenile
ikut tertangkap sebagai hasil tangkapan ikan sampingan. Bila ini dilakukan
terus-menerus, maka kerusakan sumberdaya ikan tinggal menunggu waktunya.
Oleh
karena itu, banyak sekali kajian-kajian yang telah dilakukan selalu
merekomendasikan untuk penghapusan alat tangkap yang menggunakan alat bantu
ini. Hal ini disebabkan tingginya tingkat ketidakselektifan alat tangkap yang menggunakan
lampu dalam operasi penangkapan ikan. Merupakan pekerjaan besar bagi perekayasa
alat penangkapan ikan ke depan untuk membuat alat tangkap yang mampu menseleksi
hasil tangkapannya sehingga mengurangi hasil tangkapan sampingan.
BAB
III
PENUTUP
Dari hasil diskusi kami dapat menyimpulkan
bahwa penggunaan alat tangkap ikan dengan menggunakan bantuan cahaya saat ini
telah mengalami perkembangan yang pesat baik dalam penerapan teknologi maupun
penggunaannya.
DAFTAR
PUSTAKA
http://perikananindonesia.com/bagan-alat-penangkapan-ikan-dari-sulawesi/.
Diakses Tanggal 5 Maret 2013, Makssar.
Gunarso,
W. 1985. Tingkah Laku Ikan Dalam
Hubungannya Dengan Alat, Metoda Dan Taktik Penangkapan. Fakultas
Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar